Bukit Juang Sang Arya

Arya terlihat senang sekali pagi ini. Mungkin ia baru saja menerima uang dari papanya untuk bulan ini. Dengan segera ia berlari ke tempat Uya untuk bembayar hutangnya.
“Ya, buka pintu lo !!” teriaknya dari depan pintu.
Tak lama kemudian Uya membuka pintu dan menjawab teriakan Arya, “lo napa sich ? gue masih ngantuk banget nie !” katanya sambil mengucek- kucek matanya.

“gue mau balikin duit yang gue pinjem kemarin ! nie !” Arya mengeluarkan uang dari sakunya.
“thank’s banget ya bro !! lo emang teten gue yang super duber bwaaaaeeeeekkk !!! hehehe…”, tambahnya.
“hmmmmh,, yo’i men ! sama- sama !”sahut Uya yang memakai baju kumal itu.
Arya dan Uya memang sahabat sejak kecil. Uya tak sekaya Arya. Tetapi justru Arya yang suka meminjam uang Uya ketika keuangannya lagi krisis. Uya juga tidak begitu kawatir jika uangnya tak kembali. Karena Uya sudah kenal Arya sejak dulu. Kebiasaan meminjam memang tak pernah bisa berhenti tapi kebiasaan mengembalikan memang tak pernah terlambat. Tapi pinjaman Arya bukan pinjaman uang saja, melainkan meminjam barang- barang Uya yang lain.
Orang tua Arya sudah bercerai sejak Arya usia 10 tahun dan pada saat itu ia masih duduk di bangku SD. Sejak bercerai, orang tua Arya sudah tidak tinggal di Indonesia. Mamanya tinggal di Australia dengan suami barunya. Papanya bekerja sebagai seorang Dosen di salah satu Universitas di New York. Sekarang, ia tinggal sendiri di rumah mewahnya itu.
Orang tua Uya sangat pengertian terhadap sahabat anaknya itu. Arya anak yang baik menurut mereka. Selama ini, orang tua Uya tak pernah melihat Arya berbuat sesuatu yang memalukan mereka.
Arya selalu berpenampilan menarik di sekolahnya. Motornya sering gonta- ganti dan kesemuanya tak ada yang ketinggalan jaman. Kejuaraan basket tak pernah kalah dan memalukan jika dia ikut berkompetisi. Cool gayanya.banyak cewe’ yang meliriknya. Jika dihintung, mungkin sudah seperempat dari total cewe’ sesekolahan sudah pernah dipacarinya.
Hari ini, ada murid baru, namanya Aila. Dari raut wajahnya, ia memang anak yang sopan. Tapi ia bukan anak orang kaya. Ibunya hanyalah seorang penjual kue keliling dan ayahnya adalah seorang kuli bangunan. Meski latar belakang keluarganya seperti itu, Aila tak pernah minder. Ia selalu terlihat PD. Mayoritasnya hanyalah belajar dan belajar.
Mungkin ini adalah mimpi Arya yang kesekian kalinya. Mendapatkan cewe’ seanggun Aila. Senyum Aila begitu menawan hingga membuatnya jatuh hati.
Bermodalkan rayuan gombalnya, ia dekati Aila.
Sepulang sekolah ia samperin Aila ke kelasnya.
“Hai cewe’… boleh kenalan ngga ? kamu cantik banget sich ? namaku Arya. Kamu ?” tanyanya sambil menjulurkan tangannya berharap jabatan tangan Aila. Ternyata Aila tak menggubrisnya. Aila malah pergi dan tak pedulikan Arya.
Sikap Aila yang seperti ini, membuatnya semakin tertantang. Sepertinya tantangan ini memang bukan tantangan biasa. Selain ia belum mengenal Aila, ia juga belum mengerti bagaimana merayu cewe’ seanggun Aila.
Malam hari Arya tak tertidurkan karena bayangannya tertuju pada sosok Aila. Sebelumnya, ia tak pernah mendapati rasa yang seperti ini.
Esoknya, ia coba dekati Aila lagi. Tapi nihil. Malah, satu kata sempat diucapkan Aila hingga membuat Arya tak mengerti.
“Aku bukan cewe’ sempurna seperti cewe’- cewe’ yang lain. Aku juga ngga sekaya kamu. Permisi.”
Kata- kata itu membuat Arya berpikir, “Maksudnya sekaya aku itu apa ? apa mungkin ia orang miskin ? tapi apa mungkin ia orang miskin ? apa jadinya kalau aku pacaran sama anak miskin ?” pikirnya dalam hati.
Maklumlah, dia ngga pernah pacaran sama cewe’ yang keuangannya jauh berada di bawahnya. Tapi sekali lagi ia pikir, “apa gunanya juga aku punya pacar kaya ? toh mantan- mantanku juga minta uangku ! aku juga yakin, Aila ini bener- bener cewe’ yang beda sama mantan- mantan aku !” dengan pemikirannya yang seperti itu, ia ingin meneruskan niatnya untuk memiliki Aila.
Seribu cara selalu ia gunakan untuk merayu Aila. Sampai akhirnya Aila lelah menghindar. Aila mengatakan latar belakangnya bahwa ia bukalah anak orang ternama seperti orang tua Arya. Karena Arya sudah berniat demikian, Arya tidak akan mempermasalahkan apapun latar belakang Aila. Ia akan tunjukkan seberapa besar cintanya pada Aila.
Aila tetap tak mempercayai mulut berbisa seperti mulut Arya. Rupanya ia sudah mengenal tampang playboy cap kayu bakar mirip Arya.
Sementara Arya yang berusaha menunjukkan rasa cintanya itu, kini mencoba menjalani kehidupan orang- orang di bawahnya. Tak jauh- jauh, ia belajar dari Uya. Pagi- pagi ia pergi ke tempat Uya untuk membantu ayahnya Uya menyiapkan gerobak batagor kelilingnya. Jam 06.30an ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Padahal jam 06.45 gerbang sekolahnya sudah ditutup. Dan kali ini ia telat untuk kesekian kalinya.
Aila yang mendengar kabar ini, mencoba menanyakan pada Arya.
“kenapa kamu sering terlambat ? biasanya kan kamu suka ngebut di jalan ?” tanya Aila.
“aku udah ngga bawa sepeda motor sekarang. Aku jalan ke sekolah. Dan tiap hari aku telat karena aku bantu ayah temanku mencari nafkah sampai jam 06.30an.”jawabnya singkat.
Mendengar jawaban Arya demikian, Aila hanya tersenyum dan kemudian meninggalkan Arya tanpa pamit. Karena ia pikir itu hanya akal- akalan Arya saja untuk mendapat perhatian darinya. Dengan cepat Arya kejar Aila.
“kenapa kamu pergi gitu aja ?” ucap Arya.
“ngga pa- pa…! aku pingin pulang !” balas Aila
“oh, yaudah… hati- hati. Mau aku temani La ?” rayu Arya lagi.
“ngga, makasih. Aku lebih suka orang yang apa adanya.” Ucap cewe’ lembut itu dan kemudian ia langsung pergi meninggalkan Arya.
Ditengah perjalanan, Aila berpikir. Kenapa Arya bersikap seperti itu pada Aila. Cowo’- cowo’ yang suka padanya tak pernah melakukan hal sedemikian itu untuknya.
Disisi lain, pada hari Minggu, Arya ikut ayahnya Uya berualan di pasar. Sampingnya berdiri penjual kue basah dan gorengan.
Tak tahu kenapa Arya terus saja memikirkan Aila. Sesaat lamunannya terhenti ketika ada pembeli. Kemudian, Arya lanjutkan lamunannya.
Sejenak ia mencoba menghentikan lamunannya. Tapi tak berhasil. Sama saja. Tapi tak lama kemudian, lamunannya terhenti dengan sendirinya. Bukan karena penjual, akan tetapi kali ini, lamunannya terhenti ketika ia melihat seorang laki- laki tua yang mengeluh kesakitan. Langsung ia datangi orang itu, dan ia bawa ke rumah sakit. Istri pak tua itu menangis dan bingung harus berbuat apa. Dengan paniknya ia menelpon tetangganya untuk memberi tahu anak- anaknya bahwa ayah mereka sedang sakit dan kini dirawat di rumah sakit.
Tak lama kemudian, tak jauh dari tempat Arya duduk, dilihatnya sosok cewe’ yang di pujanya mendekat. Ia menghampiri ibunya itu. “bagaimana keadaan ayah Bu ?” tanya Aila. “Ayahmu sudah ditangani dokter nak !”jawab ibu Aila. “bu, ibu dapat uang dari mana bisa memasukkan ayah di ruang ICU ? ini mahal bu… !”jawab Aila.
“kita dibantu sama anak itu nak ! dia mau membiayai ayahmu.”ucap ibu Aila dengan menghapus airmatanya.
Menoleh ke arah sisi kanan, ia lihat Arya sedang duduk memperhatikannya dan ibunya dengn panik.
“jadi, kamu yang bantu ayahku ? kok , kamu ? memangnya kamu ngapain di pasar ?”
Lalu ibunya menjawab, “ia membantu ayahnya nak… tiap pagi ibu perhatikan ia selalu membantu ayahnya di pasar berjualan batagor. Tapi ibu heran, kenapa dia bisa membiayai ayahmu nak !”
“jadi, benar, kalau dia membantu orang berjualan setiap pagi ? itu bukan ayahnya bu ! itu ayah temannya. Dia sebenarnya adalah orang kaya. Tapi, kita harus mengucapkan terima kasih padanya Bu !”
“Ya, benar Ai, kita ucapkan makasih ya Nak !”
“maafin aku ya Ya ! aku raguin kamu ! aku udah ngga percaya ama kamu ! tapi maaf juga, aku belum bisa jadi pacarmu ! aku ingin sekolah dulu. Memperjuangkan nasib keluargaku Ya ! sekali lagi makasih dan aku minta maaf Ya !” tuturnya.
“ya, sama- sama Ai… aku akan tunggu kamu sampai kamu siap pacaran… aku ngerti banget kok keadaan kamu…”jawab Arya.
Ternyata kini Arya temukan jawabnya. Aila bisa jadi miliknya dengan penantian. Dan semua itu tak lepas dari pengorbanannya selama ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mari Berbahasa |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.